Showing posts with label Indonesiana. Show all posts
Showing posts with label Indonesiana. Show all posts

Friday, 3 June 2016

Enam Ritual Unik Mencari Jodoh di Indonesia

10:50:00

Sebagai negara dengan beragam adat, tradisi, budaya, dan bahasa, Indonesia memiliki banyak keunikan dan keragaman dalam menjalankan kehidupan. Termasuk juga dalam mencari jodoh sebagai pasangan hidup. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, mencari jodoh bukan sekadar mencari pasangan, apalagi dipasangkan. Ada sejumlah ritual yang harus dijalankan sebelum mendapatkan jodoh. Ritual yang dijalankan di masing-masing daerah tentu berbeda sehingga memunculkan keragaman. Nah, dari keragaman itu ternyata ada beberapa ritual mencari jodoh yang menarik dan tidak biasa bagi kebanyakan orang. Paling tidak ada enam tradisi menjari jodoh yang layak diketahui dan dipertahankan sebagai kekayaan budaya Indonesia.


Lempar kacang
Untuk mencari calon istri, para pemuda Buton, Sulawesi Tenggara harus menyiapkan kacang untuk dilemparkan ke wanita yang diinginkan dalam tradisi Kamomose. Puluhan wanita yang siap menikah tapi belum bertemu jodoh berbaris rapi dan memegang wadah untuk menampung kacang yang dilempar para pemuda. Wanita yang bersedia diajak kenalan, akan menampung kacang yang dilempar lalu memberikan isyarat untuk perkenalan.

Mengintip di balik bilik
Lelaki lajang atau duda yang ingin mendapat jodoh bisa mengikuti tradisi Gredoan di Kecamatan Kabat, Banyuwangi. Tradisi ini khas masyarkat Osing, etnis asli Banyuwangi. Gredoan diadakan berbarengan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad. Sehari sebelum perayaan dimulai, para gadis dari beberapa desa diminta membantu memasak untuk perayaan Muludan Gedi. Nah, saat memasak, mereka diintip para perjaka dan duda dari balik bilik bambu. Jika cocok, maka wanita akan digredo dan diajak ngobrol di terus rumah sebagai perkenalan. Kalau cocok, mereka datang menemui orangtua untuk meminta restu menikah.

Tarian di dalam rumah adat
Menari bersama di dalam rumah adat yang terbuat dari kayu dan bambu sampai rumah itu terasa bergoyang-goyang. Saat menari, para pria dan wanita saling menarik perhatian lawan jenisnya untuk diajak kenalan dan penjajakan. Jika pasangan muda mudi ini merasa cocok dan mendapat restu dari orangtua, maka perjalanan menuju pernikahan makin lapang. Tradisi menarik di dalam rumah adat ini biasa dilakukan oleh Suku Mee di Papua. Tarian unik ini disebut dengan Emaida Yibu yang berarti menari di dalam rumah adat yang dijadikan momentum menyenangkan bagi muda-mudi Suku Mee untuk mendapatkan pasangan.


Saling peluk dan cium
Tradisi saling peluk dan cium ini hanya ditemukan di Banjar Kaja Sesetan, Desa Sesetan, Denpasar seelah perayaan Hari Raya Nyepi. Tradisi ini dikenal sebagai omed-omedan. Dua kelompol muda-mudi memilih wakilnya untuk diangkat dan diarak pada posisi saling berhadapan. Ketika pasangan muda-mudi bertemu dan berpelukan erat, tidak jarang sampai bersentuhan pipi dan berciuman. Tidak semua wakil setiap kelompok mau sampai ciuman, tapi tidak jarang mereka didorong kelompoknya hingga harus bersentuhan lagi.

‘Menculik’ calon istri
Menculik calon istri dari rumah orangtuanya untuk dibawa ke rumah calon suami adalah tradisi yang berlaku di Suku Sasak, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Meski terdengar agak aneh, namun tradisi menculik ini berbeda dengan menculik dalam pengertian orang biasa. Untuk melakukan tradisi ini ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak. Salah satunya gadis yang diculik tidak boleh kurang dari 16 tahun usianya dan sudah siap menikah. Proses pencarian jodoh ini cukup panjang dan melibatkan kedua keluarga sampai disepakati jumlah mahar dan tempat pernikahan diselenggarakan.

Jualan makanan dan minuman
Menjual makanan dan minuman bisa menjadi salah satu sarana untuk saling berkenalan antara lelaki yang ingin mencari calon istri. Tradisi menjual makanan dan minuman ini diadakan dalam tradisi Kabuenga di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Dalam tradisi ini, para wanita berkumpul di lapangan terbuka dan menjual makanan dan minuman. Para pria yang belum menikah diminta turut hadir dan membeli jualan mereka. Dari traksansi jual beli ini diharapkan mereka saling mengenal dan melanjutkan hubungan ke pelaminan. Dalam tradisi ini, terdapat ayunan yang bisa digunakan untuk menjalani prosesi perkenalan dan mencari jodoh.

Calon istri yang sedang menari
Masyarakat Pulau Wangi-wangi di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara menyebutnya tradisi jogetan. Perempuan yang sudah siap dipinang diajak kumpul di rumah salah satu warga. Mereka berbaris lalu berjoget dengan iringan musik tradisional atau orgen tunggal dan seorang penyanyi. Pemuda dari beberapa desa yang datang menonton boleh memantau siapa gadis yang mau diajak kenalan setelah acara selesai. Kalau si gadis bersedia, bisa dilanjutkan kenalan sama orangtua untuk menuju ke pelaminan.

Tuesday, 31 May 2016

Kisah Masjid yang Dibangun dari Putih Telur

12:35:00

Begitu kaki menapak tanah di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, yang terasa adalah udara sejuk alami yang sejuk meski di siang hari. Semilir angin pantai membuat suasana semakin tenteram. Apalagi ketika menatap Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Masjid yang dibangun pada tahun 1803 ini menjadi landmark dan simbol Pulau Penyengat. “Masjid ini banyak dikunjungi wisatawan Malaysia dan Singapura,” kata Abdul Jalil, seorang pengurus Masjid Raya Penyengat. Pada hari Jumat, jamaah masjid ini juga berasal dari Kota Tanjungpinang.

Daya tarik masjid ini bukan sekadar warna kuning kehijauan yang membetot mata. “Masjid ini menjadi simbol kebesaran Kerajaan Melayu di masa lalu yang berkuasa hingga Pahang, Johor, dan Singapura,” katanya. Masjid in dibangun oleh Sultan Mahmud tahun 1803 yang direnovasi pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman pada tahun 1832. Masjid ini memang menjadi penanda Pulau Penyengat bukan pulau sembarangan. Luas pulau ini tak seberapa, hanya 240 hektar. Lebarnya sekitar satu kilometer dengan panjang dua kilometer. Penghuni pulai ini pun tidaklah banyak, 2.500 jiwa atau 450-an keluarga.


Pulau ini sejak awal dikenal sebagai mas kawin atau mahar Raja Riau-Lingga, Sultan Mahmud Syah kepada permaisurinya, Engku Putri atau Raja Hamidah tahun 1801. Masjid yang masih berdiri megah sampai sekarang adalah salah satu warisan Kerajaan Riau Lingga. Dari cerita turun temurun pengurus masjid dan masyarakat Penyengat, masjid ini dibangun menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir, dan tanah liat. Putih telur digunakan karena produksi telur pada masa itu sedang melimpah sehingga warga hanya mau makan kuning telurnya. Putih telur, seperti juga air tebu, diyakini bisa menetralisir garam yang mudah merusak dinding.

Secara fisik masjid ini cukup megah dengan panjang 20 meter dan lebar 18 meter. Pada setiap sudut bangunan terdapat empat menara tempat bilal mengumandangkan azan. Selain itu ada pula 13 buah kubah berbentuk seperti bawang sehingga jumlahnya mencapai 17 buah sebagai simbol rakaat sholat wajid lima waktu. Di masjid ini pula kita bisa menemukan Al Quran tulisan tangan yang dibuat sekitar abad ke-18 dan terpelihara dengan baik hingga kini.


Bangunan yang menjadi cagar budaya ini telah menjadi ikon Penyengat sekaligus magnet yang menarik minat wisawatan berdatangan. Tak hanya itu, masjid dengan dominasi warna kuning kehijauan ini masih makmur oleh jamaah. Kisah kedekatan anak-anak kampung dengan masjid di masa silam bisa kita temukan di pulau ini. Suasa syahdu makin terasa ketika saya bergabung dalam bersamaa jamaah untuk salat dzuhur. Karena cuaca begitu terik, bertahan di halaman masjid cukup membuat fisik istirahat sejenak.

Begitu matahari rebah di ufuk barat dan awan kemerahan terlihat jelas, saya kembali merasakan suasana yang sangat berbeda, terutama saat adzan berkumandang dari Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat ini. Tak butuh waktu lama menyaksikan anak-anak muda, laki-laki maupun perempuan, anak-anak datang satu per satu memasuki masjid untuk shalat maghrib. Bukan hanya ketenangan yang didapat jika sore datang. Ketenteraman dan kedamaian dan suasana yang benar-benar relejius seperti kisah masa lalu tentang kampung yang damai.

“Kami bersyukur karena hati warga Penyengat masih tertambat dengan masjid ini,” kata Haji Abdurrahman, salah seorang pengurus masjid. Jamaah makin meluber jika Jumat datang. Sejak pagi pulau ini telah didatangani jamaah dari Kota Tanjungpinang yang hanya berjarak 15-20 menit perjalanan laut. Sesekali kita akan menemukan jamaah dari negeri seberang seperti Johor, Pahang maupuan Singapura. “Biasanya mereka sekalian berziarah ke makam para raja Melayu di pulau ini,” katanya.

Suasana relejius semakin kental manakala Ramadhan datang. Sepanjang bulan puasa, masjid ini tidak hanya dikunjungi warga pulau, tapi juga dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Bahkan tidak jarang turis mancanegara seperti Amerika Serikat, Belanda, Timur Tengah berada di sini dalam hitungan bulan sembari menyatu dengan kehidupan masyarakat. “Tapi, warga di sini masih tetap bertahan dengan tradisi kami dan tidak terbawa arus budaya dari luar,” katanya.

Selain masjid yang dibangun dengan bahan campuran telur, warisan lain yang cukup menarik di pulau ini adalah bekas gedung mesiu, meriam belanda, komplek pemakaman raja dan bangsawan Kerajaan Riau-Lingga, termasuk makan Raja Ali Haji, penulis Gurindam Duabelas yang tersohor sebagai pencetus cikal-bakal bahasa Melayu modern menjadi bahasa Indonesia.

Tuesday, 24 May 2016

Sensasi Pedas Enam Kuliner Asli Indonesia

06:53:00

Selain terkenal dengan kuliner yang sangat beragam dan berempah, kuliner Indonesia memiliki salah satu ciri yang tidak dimiliki oleh masakan negara lain: rasa pedas. Hampir tidak ada makanan lain di dunia yang pedasnya melebihi beberapa masakan khas Indonesia. Rasa pedas yang amat sangat ini tidak hanya karena jumlah cabe yang dipakai, tapi karena pengolahan yang berbeda dan tambahan merica maupun lada. Tidak heran kalau beberapa kuliner khas daerah di Indonesia ini memiliki tingkat pedas yang luar biasa.

Makanan super pedas ini tersebar di beberapa daerah mulai Sabang sampai Merauke. Tapi, jika dipilih dan dipilah kembali, ada beberapa kuliner yang memiliki tingkat pedas berbeda dibanding kuliner lainnya. Kuliner Sumatera Barat misalnya, terkenal dengan rasa pedas yang cukup kuat selain rasa gurih yang timbul dari penggunaan santan. Berikut ini ada beberapa kuliner domestik yang memiliki rasa pedas luar biasa. Wisatawan asing, terutam dari Eropa biasanya tidak tahan dengan kuliner super pedas ini.

Plecing Kangkung

Plecing kangkung aslinya memang makanan khas Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tapi, kuliner ini sudah menyebar ke berbagai daerah dengan varian rasa yang berbeda. Meski sudah banyak macamnya, plecing kangkung Lombok terkenal dengan rasa pedas yang membakar lidah. Kalau plecing kangkung di daerah lain tidak begitu pedas, plecing kangkung Lombok tetap pada selera asal yang super pedas.

Ayam Taliwang

Sama dengan plecing kangkung, ayam taliwang berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ayam taliwang biasa dimakan bersama plecing kangkung sebagai pendamping. Salah satu ciri yang membuat ayam taliwang terkenal, ya rasa pedasnya yang bener-bener hot. Rasa pedas ini berasal dari cabe rawit yang dimasak sebagai campuran bumbu oles ayam taliwang.


Mie Aceh

Seperti masakan Aceh yang lain, mie Aceh kuat dengan aroma rempah-rempah yang memicu kehangatan. Mie Aceh terkenal dengan rasa pedasnya yang luar biasa, baik itu mie Aceh goreng kering, mie tumis, atau mie rebusnya. Semuanya serba pedas tanpa ampun. Sensasi pedas ini bukan berasal dari cabe rawit, tapi dari merica yang jadi andalan rempah mie Aceh. Selain kuat rasa pedasnya, mie Aceh juga punya ciri khas aroma karinya.

Dendeng Balado

Siapa yang tidak kenal dengan masakan Padang? Hampir semua masakan Padang pasti memiliki rasa pedas yang lumayan kuat, terutama kalau yang disajikan di Sumatera Barat. Salah satu yang cukup terkenal dengan kadar pedasnya adalah dendeng balado. Dari warnanya yang merah menyala, semua sudah tahu kalau dendeng balado itu rasanya super pedas. Rasa pedas ini berasal dari cabe merah yang digunakan sebagai bumbu dasarnya.

Ayam Betutu

Dari asal usulnya, ayam betutu sebenarnya masakan khas masyarakat Gilimanuk, di Bali bagian barat. Karena rasanya yang enak, terutama sensasi pedasnya membuat masakan ini jadi salah satu ciri khas masakah Bali. Sensasi pedasnyas berasal dari cabe rawit dan sedikit merica yang cukup membuat air liur meleleh karena pedasnya. Saat ini, ayam betutu disajikan dari kelas warung kaki lima sampai restoran bintang lima.

Sego Tempong

Salah satu kuliner andalan Banyuwangi, terutama untuk penggemar masakan pedas. Makanan ini cukup sederhana di mana nasi panas dicampur dengan gorengan tempe, tahu, dadr jagung, ikan laut, telur, dan lain-lain. Ciri khas tasi tempong adalah sambal mentah dengan tambahan terasi, perasan jeruk limau dan tentu saja cabe rawit dan tomat. Saking pedasnya, orang yang makan nasi ini serasa ditempong atau ditampar.