Satu Komplek, Lima Rumah Ibadah
Amboy Indonesia
14:24:00
Setelah meresapi perjuangan para penyebar Islam di Pulau Bali dengan mengunjungi makam mereka, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain untuk menambah pengetahuan. Meski perjalanan kali ini bernuansa wisata ziarah ke makam para wali, kami juga niatkan mengunjungi tempat lain yang tidak kalah menarik. Salah satunya adalah pusat peribadatan Puja Mandala sambil melewati jalan tol di atas laut yang membentang dari daerah Kuta di selatan hingga ke Tanjung Benoa di bagian utara Kota Denpasar. “Jangan mati sebelum menginjakkan kaki di Tanjung Benoa,” kata Ahmad Dasuki berseloroh sambil mengulum senyum.
Dalam perjalanan ini, Tanjung Benoa hanyalah bonus karena traveling ini lebih bernuansa wisata ziarah dan sejarah. Termasuk juga mengunjungi Pulau Penyu dan bermain banana boat sekadar untuk relaksasi, bukan tujuan utama kami. Tapi, bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman olahraga air sambil bersenang-senang, Pantai Benoa tidak boleh ditinggalkan. Jadi, penggemar olahraga air sebaiknya jangan mati sebelum merasakan sensasi Tanjung Benoa. Karena sudah berada di Benoa, kami pun menyempatkan diri mengunjungi Puja Mandala, pusat peribadatan yang menampung lima rumah ibadah. Semula saya agak bingung dan kaget bagaimana mungkin satu tempat dijadikan sarana ibadah lima agama berbeda.
Oh, ternyata saya salah mengira. Puja Mandala rupanya sebuah komplek tempat berdirinya lima rumah ibadah yang berdiri berdampingan dan berdekatan. Dinding marmer penanda kawasan ini berdiri tegak di bagian paling ujung. Ya, di sinilah Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa berdiri. Bangunan ini bukan sekadar bangunan, tapi rumah ibadah yang ramai dikunjungi pemeluk masaing-masing agama. Di sinilah kita bisa menemukan dentang lonceng gereja berlanjut dengan panggilan azan dari masjid. Semua berlangsung damai. Umat masing-masing agama dengan khusyu beribadah di rumah ibadahnya tanpa merasa terganggu dengan kegiatan di rumah ibadah yang lain.
Pusat peribadatan lima agama ini terletak di Jalan Kurusetra, Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Luas lahan pusat peribadatan ini mencapai 2,5 hektar yang mulai dibangun tahun 1994. Yang menarik, setiap rumah ibadah menempati lahan kavling dengan luas yang sama yakni 0,5 hektar. Selain pusat peribadatan, Puja Mandala berkembang menjadi tujuan wisata reliji favorit di Nusa Dua, Bali. Seperti halnya makam para wali yang sudah kami kunjungi, sudah pasti pusat peribadatan ini menyimpan cerita tentang latar belakang dan proses pembangunannya.
Pendirian komplek peribadatan ini bermula dari gagasan Sultan Hasanal Bolkiah yang berencana mendirikan masjid berukuran kecil di Nusa Dua Beach Hotel setelah membeli hotel itu. Berawal dari keinginan itu, Menteri Pariwisata Joop Ave mengusulkan berdirinya rumah-rumah ibadah bagi pemeluk Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha. Gayung pun bersambut dan pihak BTDC mengusulkan lokasi miliknya di bagian selatan yang menghadap lagoon sebagai lokasi pembangunan rumah-rumah ibadah. Secara berurutan, rumah-rumah ibadah di sini diresmikan sejak tahun 1997 sampai tahun 2000.
Pengurus rumah ibadah ini mengadakan pertemuan setiap bulan untuk membahas berbagai hal, termasuk agenda kegiatan masing-masing rumah ibadah. “Tempat pertemuan bergilir di masing-masing rumah ibadah,” kata Ismet Noor, pengurus Masjid Ibnu Batutah. Pengurus lima rumah ibadah ini bernaung di bawah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali. Inilah salah satu model kerukunan kehidupan umat beragama yang menarik untuk dicontoh.





