Thursday, 14 July 2016

Satu Komplek, Lima Rumah Ibadah

14:24:00

Setelah meresapi perjuangan para penyebar Islam di Pulau Bali dengan mengunjungi makam mereka, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain untuk menambah pengetahuan. Meski perjalanan kali ini bernuansa wisata ziarah ke makam para wali, kami juga niatkan mengunjungi tempat lain yang tidak kalah menarik. Salah satunya adalah pusat peribadatan Puja Mandala sambil melewati jalan tol di atas laut yang membentang dari daerah Kuta di selatan hingga ke Tanjung Benoa di bagian utara Kota Denpasar. “Jangan mati sebelum menginjakkan kaki di Tanjung Benoa,” kata Ahmad Dasuki berseloroh sambil mengulum senyum.

Dalam perjalanan ini, Tanjung Benoa hanyalah bonus karena traveling ini lebih bernuansa wisata ziarah dan sejarah. Termasuk juga mengunjungi Pulau Penyu dan bermain banana boat sekadar untuk relaksasi, bukan tujuan utama kami. Tapi, bagi wisatawan yang ingin mencari pengalaman olahraga air sambil bersenang-senang, Pantai Benoa tidak boleh ditinggalkan. Jadi, penggemar olahraga air sebaiknya jangan mati sebelum merasakan sensasi Tanjung Benoa. Karena sudah berada di Benoa, kami pun menyempatkan diri mengunjungi Puja Mandala, pusat peribadatan yang menampung lima rumah ibadah. Semula saya agak bingung dan kaget bagaimana mungkin satu tempat dijadikan sarana ibadah lima agama berbeda.


Oh, ternyata saya salah mengira. Puja Mandala rupanya sebuah komplek tempat berdirinya lima rumah ibadah yang berdiri berdampingan dan berdekatan. Dinding marmer penanda kawasan ini berdiri tegak di bagian paling ujung. Ya, di sinilah Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Doa berdiri. Bangunan ini bukan sekadar bangunan, tapi rumah ibadah yang ramai dikunjungi pemeluk masaing-masing agama. Di sinilah kita bisa menemukan dentang lonceng gereja berlanjut dengan panggilan azan dari masjid. Semua berlangsung damai. Umat masing-masing agama dengan khusyu beribadah di rumah ibadahnya tanpa merasa terganggu dengan kegiatan di rumah ibadah yang lain.

Pusat peribadatan lima agama ini terletak di Jalan Kurusetra, Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Luas lahan pusat peribadatan ini mencapai 2,5 hektar yang mulai dibangun tahun 1994. Yang menarik, setiap rumah ibadah menempati lahan kavling dengan luas yang sama yakni 0,5 hektar. Selain pusat peribadatan, Puja Mandala berkembang menjadi tujuan wisata reliji favorit di Nusa Dua, Bali. Seperti halnya makam para wali yang sudah kami kunjungi, sudah pasti pusat peribadatan ini menyimpan cerita tentang latar belakang dan proses pembangunannya.

Pendirian komplek peribadatan ini bermula dari gagasan Sultan Hasanal Bolkiah yang berencana mendirikan masjid berukuran kecil di Nusa Dua Beach Hotel setelah membeli hotel itu. Berawal dari keinginan itu, Menteri Pariwisata Joop Ave mengusulkan berdirinya rumah-rumah ibadah bagi pemeluk Islam, Kristen, Protestan, Hindu, dan Budha. Gayung pun bersambut dan pihak BTDC mengusulkan lokasi miliknya di bagian selatan yang menghadap lagoon sebagai lokasi pembangunan rumah-rumah ibadah. Secara berurutan, rumah-rumah ibadah di sini diresmikan sejak tahun 1997 sampai tahun 2000.

Pengurus rumah ibadah ini mengadakan pertemuan setiap bulan untuk membahas berbagai hal, termasuk agenda kegiatan masing-masing rumah ibadah. “Tempat pertemuan bergilir di masing-masing rumah ibadah,” kata Ismet Noor, pengurus Masjid Ibnu Batutah. Pengurus lima rumah ibadah ini bernaung di bawah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali. Inilah salah satu model kerukunan kehidupan umat beragama yang menarik untuk dicontoh.


Wednesday, 29 June 2016

Inilah Kitab Panduan Seks Pertama di Nusantara

21:04:00

Di masa kejayaan Kerajaan Melayu Lingga Riau, Pulau Penyengat merupakan gudang ilmuwan pelbagai bidang seperti sastra, agama, pemerintahan, budaya, dan lain-lain. Belasan cendekiawan yang berasal dari pohon keleuarga yang sama menulis beragam naskah kuno dalam huruf Arab-Melayu. Gurindam Duabelas, karya Raja Ali Haji mendapat tempat tersendiri karena dianggap sebagai karya sastra terbesar pada masanya.

Ratusan karya lawas dari Penyengat itu masih bisa dilihat hingga kini. Tapi, tidak sedikit pula yang beralih tangan, bahkan melintasi batas negara. Di kantor Yayasan Kebudayaan Indrasakti di Pulau Penyengat, tak kurang 350 naskah kuno yang berhasil diselamatkan. “Sisanya tersebar di Singapura dan Malaysia,” kata Raja Malik Hafrizal, salah seorang ahli waris Kerajaan Melayu Lingga Riau. Sebagian tampak sudah kusam, tersimpan di lemari kantor ini.

Naskah kuno warisan Kerajaan Melayu Lingga Riau ini tak melulu bicara masalah agama, sosial maupun pemerintahan. Buku tentang hubungan intim suami isteri sesuai ajaran Islam dan budaya Melayu juga terselip di antara warisan ini. Ada sekira sepuluh naskah kuno yang membahas seks warga dan keluarga kerajaan. Buku semacam Kamasutera yang diberi tajuk Cempaka Putih ini tidak hanya berisi ulasan, tapi juga ilustrasi teknik-teknik bersenggama. Inilah kitab tentang panduan seks pertama di wilayah Nusantara.

Kitab beraksara Arab-Melayu ini ditulis Raja Abdullah yang biasa dipanggil Abu Muhammad Adnan pada akhir abad ke-19. Dia adalah putra dari Raja Ali Haji, penulis Gurindam Duabelas sekaligus bapak bahasa Indonesia dan pahlawan nasional. Pembahasan dalam kitab setebal 150 halaman ini tergolong erotis, tapi tidak vulgar. Kehidupan seksual masyarakat Melayu dan para raja dibahas secara menarik dan menggelitik. “Mungkin ini yang disebut yang nikmat tanpa harus berdosa,” katanya.

Sesuai ajaran Islam yang melandasi penulisan buku ini, Cempaka Putih tidak hanya membahas masalah teknik dan gaya bersenggama, tapi juga doa-doa sebelum hubungan intim dimulai. Dari penjelasan buku ini tergambar jelas bahwa Abu Muhammad Adnan ini menekankan pentingnya kehidupan seks yang benar sesuai ajaran Islam, sejalan dengan tradisi Melayu, dan bisa menjadi pondasi membangun keluarga sakinah. Karena itu, erotisme dalam kitab ini dikemas dengan cara yang mendidik. . “Sekitar ada sepuluh naskah tentang tema yang sama,” katanya.

Selain Abu Muhammad Adnan, kitab sejenis juga ditulis oleh penulis lain. Salah satunya adalah Khatijah Terung, isteri Abu Muhammad Adnan. Khatijah menulis Kumpulan Gunawan, naskah tentang hubungan intim yang dilihat dari sudut pandang perempuan. Selain dilengkapi tulisan, buku 197 halaman ini juga memuat ilustrasi dan foto tentang berbagai teknik hubungan suami isteri. Karya Khatijah kemudian lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Tujuh, tujuh gerakan yang biasa diperagakan perempuan dalam berhubungan intim.


Naskah-naskah kuno ini merupakan warisan budaya yang tidak ternilai harganya karena berisi sejarah, budaya, politik, sastra, dan pelbagai tema dalam kehidupan masyarakat Melayu. Naskah-naskah ini telah menjadi rujukan penting dalam penelitian tentang masyarakat Melayu, baik yang berada di Riau, Kepulauan Riau, Malaysia, hingga Singapura. Tidak mengherankan jika ratusan naskah kuno Melayu ini menjadi buruan para kolektor dari negara-negara tersebut. Mereka juga memburu naskah sejenis hingga Tanjungpinaang dan Kabupaten Lingga.

Selain naskah kuno tulisan tangan, Penyengat juga dikenal memiliki trandisi penulisan mushaf Al Quran. Warisan ini masih dapat dilihat di bagian depan Masjid Raya Penyengat sebagai bukti penulisan mushaf yang sudah berlangsung sejak tiga abad silam. Bukan hanya menulis ulang mushaf, sebagian mushaf justru dilengkapi dengan syarah (penjelasan) tentang ayat Al Quran yang ditempatkan di salah satu sisi halaman Al Quran.

Nilai historis naskah kuno Melayu ini sangat menarik bagi kolektor. Karena itu mereka tidak segan menawarkan harga yang sangat tinggi kepada pemilik naskah. “Saya pernah dibujuk untuk menjual naskah kuno Melayu,” kata Malik Hafrizal. Harga setiap naskah tentu tidak sama karena bergantung pada isi dan nilai sejarahnyal. Konon, harga satu naskah Melayu kuno ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

Malik mengatakan, Pulau Penyengat akan menjadi lebih baik jika pemerintah lebih serius dalam menjaga dan merawat naskah-naskah kuno Melayu ini. “Jadi tidak hanya merawat bangunannya saja,” katanya. Bagaimana pun juga naskah-naskah kuno merupakan catatan sejarah yang tidak bisa dibantah karena merupakan catatan atas apa yang terjadi di masa lalu.

Monday, 27 June 2016

Kuntulan, Petikan Bait-bait Burdah di Antara Rampak Rebana

13:32:00

Beberapa lelaki yang duduk berbaris di atas panggung itu menggerakkan tubuhnya ke belakang dan ke depan mengikuti irama yang kian rancak. Bait-bait burdah yang sering terdengar dalam musik kasidah mengalun bersama gerakan para penari. Sesekali tembang pop masa kini muncul bersama pola gerakan penari yang berbeda. Irama semakin rancak ketika sepasang kendang Bali, kethuk, kenong, kluncing, slompet dan beberapa alat musik tepuk lain dimainkan semakin cepat. Inilah salah satu ciri khas Kuntulan, seni tradisional yang hidup dan berkembang di Banyuwangi.

Kesenian yang terus memodifikasi diri sesuai perkembangan jaman ini diyakini muncul pertama kali pada akhir abad ke-19 di pesantren dengan nuansa Arab-Islam. Karena itu, kesenian ini juga dikenal dengan Hadrah Kuntulan. Syair yang dinyanyikan berasal dari bait-bait burdah yang biasa dibacakan dalam Al Barzanji. Penari Kuntulan didominasi laki-laki dengan busana serba putih, termasuk kasus tangan dan kaus kaki serta kopiah hitam hingga menyerupai seekor kuntul atau bangau. Begitu juga gerakan ke depan dan belakang dengan tangan di depan dada.

Menurut sejarawan Banyuwangi, Sutedjo HN, nama Kuntulan menggambarkan gaya hidup sosial yang lebih mementingkan kebersamaan, senasib, dan sepenanggungan. Falsafah ini diambil dari pola kehidupan bangau yang berkelompok. Bangau memanggil rekan-rekannya ketika mendapat makanan. Kuntul dijadikan simbol untuk menggambarkan tanah Banyuwangi yang subur hingga memberi kemudahan petani bercocok tanam. Kuntulan mengajak orang hidup damai dan rukun.

Dalam perjalanannya, seni Kuntulan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam masyarakat. Tapi, perubahan drastis terjadi pada pertengahan tahun 1970-an ketika Sumitro Hadi, seniman Kuntulan mengenalkan penari perempuan. Modifikasi ini dilakukan pada Jingga Putih, grup Kuntulan yang didirikan Sumitro untuk merespon penurunan minat masyarakat pada Kuntulan. Busana serba putih juga dimodifikasi dengan sentuhan warna lain dan tambahan hiasan bunga seperti pada penari Gandrung.



Budayawan Banyuwangi, Hasnan Singodimayan mengatakan masuknya penari wanita dalam Kuntulan untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap seni tradisi ini. Apalagi setelah alat musik Bali ditambahkan sebagai pengiring kesenian ini. “Gerakan penari Kuntulan itu seperti gerakan orang berwudhu, tapi dinamikanya seperti tarik Kecak Bali,” katanya.

Penyegaran kesenian Kuntulan ini menghidupkan kembali semangat berkesenian masyarakat dan menumbuhkan kecintaan pada tradisi lokal. Sahuni, seorang seniman Kuntulan yang mendirikan Grup Sidopekso, juga memberi sentuhan lain dengan menambahkan ensambel musik pengiring kesenian Damarwulan yakni reong (sepasang kendang Bali) dan ensambel musik pengiring Gandrung yakni kendang, kethuk, kenong, kluncing (triangle). Belakangan slompret, alat musik tiup untuk kesenian kuda lumping juga dimasukkan.

Dengan modifikasi ini, musik pengiring Kuntulan yang semula bersandar pada enam rebana semakin bervariasi, termasuk irama. Apalagi setelah beberapa kelompok mulai menambahkan alat musik terkini semacam keyboard. Namun, satu hal yang tidak berubah dari Kuntulan yakni irama menghentak dengan beat-beat yang cepat dan gerakan tubuh penari yang sedikit banyak menyerupai tari Saman dari Aceh. Beberapa kesamaan ini tidak dapat dihindari karena kesenian ini memang tumbuh pertama kali di lingkungan santri.

Dalam perkembangan berikutnya, masyarakat Banyuwangi mengenal Kundar alias Kuntulan Dadaran karena penambahan beberapa instrument musik, terutama musik Bali. Masuknya nuansa Bali tidak bisa dihindari karena secara geografis Banyuwangi berbatasan langsung dengan Bali. Nuansa Bali dalam kesenian di Banyuwangi juga terjadi pada beberapa jenis kesenian. Kundaran memang lebih variatif dalam instrumentalia karena memasukkan warna musik terkini.

Menurut pakar etnomusikologi, Rizaldi Siagian, irama silang (cross rhythm) dan poly rhythm atau irama banyak seperti pada gamelan Bali sangat mungkin masuk dalam tradisi bermusik di Banyuwangi. Faktor utamanya kedekatan wilayah dan masa lalu kedua daerah yang memiliki hubungan budaya maupun agama. Irama silang ini justru memperkaya khasanah musik daerah. Adaptasi dengan alat musik terkini membuat Kuntulan semakin diterima di masyarakat. Apalagi setelah syair-syair Kuntulan diperluas tidak hanya syair bernuansa pesan agama.

Perluasan Kuntulan tidak hanya pada syair dan alat musik pengiring, namun juga gerakan yang dikenal dengan istilah Kundaran (Kuntulan yang didadar). Pembaruan gerak dan isi Kuntulan membuat kesenian ini semakin diterima warga Banyuwangi di beberapa bagian yang didominasi oleh warga Jawa seperti daerah Bango, Gambiran, dan Songgon. Kesenian ini biasanya mentas di berbagai kegiatan warga seperti tanggapan khitanan, pernikahan, hingga perayaan hari besar.

Wednesday, 22 June 2016

Indahnya Musik Tingkilan Pengiring Tari Jepen Kutai Kertanagara

07:08:00

Kalimantan Timur tidak hanya kaya dengan kesenian berupa tarian, tapi juga seni musik. Salah satu seni musik yang berkembang dan bertahan hingga sekarang adalah tingkilan. Kesenian ini merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Kutai. Berbeda dibandingkan kesenian lain di lingkungan masyarakat Dayak, tingkilan lebih dekat kesenian rumpun Melayu baik dari peralatan yang digunakan maupun tradisi bertutur dalam menyanyikan lagu yang disebut betingkilan.

Seperti halnya kesenian musik dari daerah lain, tingkilan banyak menyisipkan pesan moral pada lirik lagu yang berisi nasehat orangtua kepada anak, pemimpin kepada rakyat, dan sebagainya. Di sisi lain, lirik-lirik tingkilan juga bercerita tentang keindahan alam, kisah kasih percintaan, puji-pujian hingga parodi dan pesan satir sebagai sindiran dengan humor. Lirik ini dinyanyikan oleh penyanyi tunggal maupun dua penyanyi yang saling bersahutan.

Jika merujuk asal mula musik tingkilan, istilah tingkilan sendiri berasal dari sahut-sahutan antara dua penyanyi yang disebut betingkilan yakni bertingkah-tingkah atau bersahut-sahutan. Tidak jarang lirik musik tingkilan berisi pantun berbalas pantun sehingga kesenian ini banyak ditemui untuk pendukung acara keagamaan, upacara perkawinan, upacara pemberian nama anak maupun hiburan yang bisa dinikmati rakyat banyak. “Tingkilan identik dan budaya masyarakat Kutai,” kata Syaful Anwar, pemimpin Kelompok Musik Irama Bahari Tenggarong.


Selain ditampilkan sebagai sebuah tontonan musik, tingkilan sering digunakan untuk mengiringi tari pergaulan rakyat Kutai, yakni Tari Jepen. Dua tradisi seni ini makin menguatkan kedekatan tradisi Kutai dengan budaya Melayu. Tari Jepen di Kutai menyerupai tarian sejenis yang dikenal di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selain itu, Jepen juga memiliki unsur-unsur tarian sejenis yakni Zapin Melayu di Riau. Selain gerakan tari, irama pengiring Jepen maupun Zapin memiliki kemiripan dari sisi nada maupun peralatan yang digunakan.

Beberapa alat musik yang digunakan dalam tingkilan antara lain gambus yakni alat musik petik seperti mandolin yang kental dengan pengaruh dan unsur Timur Tengah. Alat musik ini banyak dimainkan oleh warga Melayu yang mendiami pesisir timur Kalimantan Timur. Dari sinilah alat musik petik ini dikenalkan kepada masyarakat Kutai. Pengaruh Timur Tengah juga bisa dilihat dari ketipung, semacam kendang kecil yang lekat dengan budaya Arab.

Selain gambus dan ketipung, tingkilan juga dimainkan dengan kendang. Alat musik tepuk ini berperang mengiringi petikan gambus untuk mengatur ritme dan tempo permainan keseluruhan alat musik. Sedangkan biola yang belakangan digunakan merupakan pengaruh Eropa yang dibawa oleh Belanda.  Empat alat musik ini merupakan pondasi permainan tingkilan. Namun, dalam perkembangan terkini, tingkilan juga dimainkan bersama alat musik lain seperti gitar, bas, drum, rebana hingga keyboard.

Dalam perkembangan terkini, tingkilan tidak hanya dimainkan untuk perayaan keagamaan maupun pesta pemberian nama bayi. Tingkilan dikembangkan sebagai tradisi musik yang dapat diterima di banyak tempat. Di beberapa kafe di Samarinda, tingkilan dimainkan anak-anak muda dengan semangat melestarikan musik tradisi ini.

Monday, 13 June 2016

Ziarah Wali di Pulau Bali

12:56:00

Hari masih siang matahari masih bersinar, cukup  ketika bus yang membawa kami memasuki Kampung Loloan Barat di Kabupaten Jembrana, Bali. Perjalanan selama kurang lebih empat jam dari Glenmore, Banyuwangi pada pertengahan Mei lalu itu mengantarkan kami pada suasana yang tidak pernah kami bayangkan. Tidak ada penjor, janur kuning yang menjadi salah satu ciri khas pemukiman warga Bali. Tidak ada pula sesajen seperti yang biasa kami temukan. Senja itu kami disuguhi pemandangan Bali yang lain dari biasanya: suasana yang akrab dengan keseharian kami di kampung halaman. Padahal, Loloan Barat berada di Bali, pulau para Dewa.

Rumah panggung khas Melayu-Bugis berdiri di beberapa sudut kampung. Penjual sate Madura tengah asyik melayani pembeli di gerobaknya. Beberapa lelaki berkopiah dan bersarung keluar masuk toko berpapan nama aksara Arab. Saya pribadi merasa seperti berada di Kampung Ampel, Surabaya. Aroma minyak wangi yang meruap menambah kuat kesan Kampung Ampel di Loloan Barat ini. Apalagi setelah kami mendekati komplek makam Habib Ali bin Umar bin Abu Bakar Bafaqih, salah satu ulama yang berjasa dalam penyebaran Islam di Bali. “Loloan memiliki peran penting masuknya Islam di Bali,” kata Ahmad Dasuki yang memandu kami.


Lokasi makam yang tidak persis di pinggir jalan membuat kami harus menyusuri perkampungan ini. Tapi, kami bersyukur karena dapat berinteraksi dengan penduduk kampung yang membuat saya penasaran sedari tadi. Terlebih, logat bicara mereka mengingatkan saya pada dialog kartun negeri tetangga: Upin dan Ipin. “Bahasa Melayu sudah digunakan di sini sejak dua abad silam,” katanya. Penutur awal bahasa Melayu datang dari Trengganu yang mengikuti migrasi penduduk Pontianak dan Bugis setelah Makassar jatuh ke tangan Belanda pada 1667. “Warga Bugis di sini masih keturunan Sultan Wajo,” kata Dasuki. Bahasa Melayu itu masih digunakan oleh komunitas muslim hingga sekarang. Warga Jembrana menyebutnya bahasa Melayu Bali.

Meski mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, pemeluk Islam di Loloan tetap hidup tenang dan damai berdampingan dengan umat lain di dalam maupun di luar kampung. Jejak penyebaran Islam seperti makam Habib Ali turut dilestarikan. Selain mewariskan pesantren yang masih aktif hingga sekarang dan sejumlah kitab, Habib Ali adalah santri terakhir Kyai Kholil Bangkalan, ulama kharismatik dari Madura di masa perang kemerdekaan. Tidak mengherankan jika makam Habib Ali menjadi tujuan pertama wisata ziarah di Bali. Apalagi lokasinya paling dekat dengan Banyuwangi di ujung timur pulau Jawa. Di makam inilah kami berdoa semoga jariyah Habib Ali menebar ajaran Islam yang damai menjadi tabungan di akhirat.

Wisata ziarah ke Loloan tidak hanya mengunjungi makam Habib Ali. Di kampung ini kita dapat menemukan jejak lain yakni Pondok Pesantren Mambaul Ulum di Loloan Timur. Pesantren yang didirikan KH Ahmad Dahlan dari Semarang tahun 1935 ini masih bertahan hingga sekarang dan menjadi salah satu jejak kehadiran Islam masa lalu. Yang tidak kalah menarik tentu saja prasasti dari ukiran kayu dan Al Quran tulisan tangan yang disimpan di Masjid Baitul Qadim. Ukiran dan Al Quran ini diperkirakan berusia 200 tahun lebih. Di salah satu ukiran kayu itu tertulis aksara tahun 1268 hijriyah. Benda-benda bernilai sejarah ini membutuhkan perhatian lebih agar tidak rusak karena pelapukan akibat faktor usia.


Bagi kami, Kampung Loloan ibarat oase. Kampung ini terbagi menjadi tiga wilayah yakni Loloan Selatan, Loloan Barat dan Loloan Timur. Loloan Selatan biasa disebut dengan Markesari di mana mayoritas penduduknya memeluk Hindu. Sedangkan Loloan Barat dihuni masyarakat muslim dengan komposisi mencapai separuhnya. Adapun penduduk Loloan Timur mayoritas memeluk Islam. Bagi saya pribadi, bukan persoalan komposisi pemeluk masing-masing agama yang menarik, tapi kerukunan hidup dapat diciptakan dalam perbedaan. Apalagi warisan sejarah Islam di kampung ini sama-sama dijaga oleh semua penduduknya. Warisan nilai-nilai itu yang membuat saya jadi paham kenapa Habib Ali dianggap sebagai wali.

Dalam tradisi wisata ziarah di Bali, makam Habib Ali bukan satu-satunya lokasi yang menjadi tujuan wisatawan. “Ada tujuh wali dan kita biasa menyebutnya wali pitu,” kata Ahmad Dasuki. Lokasi makam mereka berbeda dari ujung barat hingga ujung timur. Jika makam Habib Ali di Jembrana, makam Pangeran Mas Sepuh berlokasi di Badung. Adapun makam Habib Ali bin Abu Bakar bin Umar bin Abu Bakar Al Khamid di Klungkung, Chabib Ali bin Zainul Abidin Al Idrus di Karangasem, Syeh Maulana Yusuf Al Baghdi Al Maghribi di Karangasem, Chabib Umar bin Maulana Yusuf Al Maghribi di Bedugul-Tabanan, dan The Kwan Lie atau Syekh Abdul Qodir Muhammad di Buleleng.

Wisata ziarah di Bali tidak lepas dari nama Habib Toyyib Zaen Arifin Assegaf dari Sidoarjo, Jawa Timur. Pengalaman spiritual dan sufistik mengantarnya mencari jejak penyebar Islam di tanah para dewata pada tahun 1992. Bukti sahih peran mereka dalam penyebaran Islam dapat ditelusuri dan didukung beberapa bukti lain. Sebagian lagi dirujuk berdasarkan garis keturunan hingga ditemukan makamnya. Syeikh Chamdun  Choirusholeh atau Pangeran Mas Sepuh misalnya diyakini sebagai putra Raja Mengwi VII (Cokorda I) dari ibu yang berasal dari Kerajaan Blambangan (Banyuwangi). Makamnya berada di Pantai Seseh di Kabupaten Badung dan dikenal sebagai Keramat Pantai Seseh.

Ziarah ke makam para wali di Bali bukan sekadar menambah wawasan saya tentang kekayaan Bali sebagai destinasi wisata utama, tapi juga memberikan pelajaran tentang kerukukan hidup sesama manusia dalam keyakinan yang berbeda. Saling menghormati adalah menjadi kunci penting merawat dan melestarikan warisan masa lalu sebagai kekayaan khazanah pariwisata Indonesia. (iqbal fardian)