Showing posts with label Kuliner. Show all posts
Showing posts with label Kuliner. Show all posts

Tuesday, 2 August 2016

Nikmatnya Sate Lalat Khas Pamekasan, Madura

12:04:00
Tak susah memang menemukan kuliner sejenis sate Madura di berbagai daerah. Pasalnya setiap daerah ada saja orang yang menjual makanan khas pulau garam ini. Ya, orang Madura memang dikenal sebagai perantau ulung. Tak heran bila mereka datang ke daerah rantauan seringkali membawa serta makanan khas Madura.
Namun, cita rasanya seringkali sedikit berubah karena lebih menyesuaikan dengan budaya kuliner di daerah rantauan. Menikmati kuliner sate Madura yang paling pas ya di Madura, tepatnya di Pamekasan dengan kulinernya yaitu sate lalat.

Rasanya belum afdol datang ke Madura tanpa mencicipi sate lalat. Namanya memang sedikit ekstrim tapi itulah yang menjadi daya tarik para penikmat kuliner. Sate lalat atau biasa disebut sate laler masih menggunakan daging ayam atau kambing. Hanya saja bentuknya dipotong lebih kecil dari sate biasa atau seperti lalat sehingga orang Madura menyebutnya sate lalat.


Dalam satu tusuk sate biasanya berisi 3 sampai 5 potong daging. Karena potongannya lebih kecil sate lalat menggunakan lidi bukan bambu agar potongan daging tidak mudah rusak saat ditusuk.

Ciri khas sate lalat terletak pada bumbu kacangnya yang berbeda dengan bumbu sate lainnya. Sate lalat tidak menggunakan kacang goreng tapi menggunakan kacang yang sebelumnya telah disangar atau disangrai. Kemudian dimasak dengan air setelah itu baru dihaluskan. Irisan daging kecil-kecil membuat bumbu lebih meresap sehingga rasanya gurih dan nikmat.

Bila sepuluh tusuk sate biasa sudah cukup, porsi sate lalat bisa sampai 20 hingga 30 tusuk dengan pendamping lontong atau nasi. Agar tidak mudah gosong, sate yang telah ditusuk sebelumnya dicelupkan ke dalam minyak goreng. Proses pemanggangan juga tidak bisa dilakukan terlalu lama. Bahkan terkadang untuk menciptakan aroma yang khas dan nikmat penjual sate lalat seringkali membuat kecapnya sendiri.

Sate lalat mulai popluer sejak 25 tahun lalu di Pamekasan. Cara menjualnya juga identik dengan alat tradisional yang terbuat dari anyaman bambu lalu dipikul keliling kampung saat berjualan. Sate lalat bisa dinikmati di kota Pamekasan tepatnya di kawasan kuliner Saesalera Jalan Niaga dan Jalan Purba.

Berderet penjual sate lalat dapat ditemui di sini termasuk warung Pak Ento yang memang sudah lama menjual sate lalat. Biasanya warung sate dikawasan tersebut buka mulai sore hingga malam hari. Harga seporsi sate lalat dibandrol sekitar Rp 9.000 dan Rp 11.000 bila menggunakan lontong.

Thursday, 14 July 2016

Botok Tawon, Sensasi Botok dari Lebah Menyengat

16:39:00


Tak banyak memang yang mengenal botok tawon. Sajian kuliner yang satu ini memang berbeda dari biasanya. Banyuwangi memang identik dengan kuliner unik yang menggabungkan dua jenis makanan. Namun kali ini Anda bisa menemukan menu botok tawon di Banyuwangi. Tepatnya di warung sederhana milik Bu Misnah, di Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, Jawa Timur.

Bagi yang tidak biasa botok tawon memang sedikit aneh. Tapi jangan salah botok tawon cukup nikmat disajikan bersama dengan nasi panas. Racikan bumbu yang pas mampu menggugah selera bagi para pecinta kuliner. Saat pincukan daun pisang dibuka aroma segar dan sedap langsung terasa. Cita rasanya juga beragam asam, manis, asin, pedas dan gurih.

Biasanya botok terbuat dari ampas bungkil kelapa yang telah dibumbui dengan bahan utama berupa tempe, tahu, teri atau udang. Sedangkan botok tawon di dalamnya berisi sarang beserta anakan tawon yang masih menempel pada sarang dan siap disantap. Botok tawon memang menyajikan kuliner yang berbeda. Tawon yang dipilih adalah tawon usia muda. Saat dikunyah sarang tawonnya terasa empuk dan kenyal.


Botok tawon memang paling pas disajikan selagi hangat. Cara pengolahannya juga tidak tergolong susah. Irisan sarang dan anak lebah dimasukkan pada pincukan daun pisang. Kemudian disiram dengan kuah yang telah dibumbui dengan gula merah, lombok, asem, tomat serta bawang merah. Barulah kemudian direbus hingga daun pisang berwarna kecokelatan.

Penikmat botok tawon memang cukup banyak bahkan dari luar kota. Dalam sehari warung Bu Misnah menghabiskan sekitar 10 kilogram sarang dan anakan lebah sebagai bahan utama membuat botok tawon. Tapi juga tergantung ketersediaan bahan yang dicari karena tawon muda juga terbilang sulit. Tak heran terkadang botok tawon hanya tersedia pada waktu-waktu tertentu. Harga satu bungkus botok tawon sekitar Rp 6.000 sampai Rp 7.000 saja.

Tak hanya sebagai makanan biasa, botok tawon disinyalir memiliki beberapa manfaat. Botok tawon dapat mengurangi rasa pegal-pegal dan menguatkan stamina tubuh. Tak hanya itu botok tawon juga berkhasiat menyembuhkan penyempitan sel tubuh dan memperbaiki penyumbatan pada sendi.


Sunday, 22 May 2016

Lezatnya Kepiting Kenari Tarakan

21:51:00

Godaan mencoba menu kepiting di Restoran Kepiting Kenari Tarakan itu seperti datang silih berganti. Semula rekan di kantor, Umar Darmaji mengirim pesan singkat dari Jakarta. “Jangan lupa mas makan kepiting kenari Tarakan,” katanya setelah tahu saya sedang di Tarakan. Pada awalnya kepiting kenari ini saya kira sejenis kepiting yang disajikan dalam berbagai rupa. Maklum, sejauh yang saya tahu kepiting memang beragam jenis dan bentuknya.

Saya sendiri lebih akrab dengan istilah rajungan dibandingkan kepiting. Rajungan merujuk sebutan pedagang di pasar di kampung saya dulu hingga sekarang. Jadi, tidak aneh kalau saya masih suka menyebutnya rajungan. Menu kepiting di restoran Tarakan itu kembali saya mampir di telinga saya di Pulau Sangalaki. Ketika makam malam, Pak Anton Thedy, kembali mengingatkan kalau besok siang kita akan mencoba kepiting yang berbeda dibanding yang lain. “Menu andalannya kepiting asam manis,”katanya.

Beberapa keunggulan menu ini dijelaskan secara rinci sambil menyebut beberapa menu yang layak dicoba. “Kalau mau pesan bawa pulang bisa dipesan sekarang,” katanya. Chandra Atmaja, official TX Travel Tarakan mendata nama kami yang ingin memesan. “Sudah dikemas dalam kotak khusus,” katanya. Duduk manis di Restoran Kepiting Kenari Tarakan itu akhirnya kesampaian juga. Setelah tiba di Pelabuhan Tarakan dari Sangalaki pukul satu siang, kami meluncur ke Swiss Belhotel Tarakan untuk menaruh barang.

Satu persatu kepiting asam manis dan kepiting lada hitam dalam piring besar mampir di meja. Menu tambahan tumis kangkung balacang. Kepiting asam manis itu sudah dipotong menjadi beberapa bagian. Satu piring besar terdiri dari lima ekor kepiting seukuran kepalan tangan orang dewasa. Piring yang lain berbeda tampilan karena kepitingnya lebih hitam bertabur bumbu lada.



Satu dua kali mencecap kepiting asam manis, kami terus menambah dan menambah. Entah sudah berapa bagian kepiting asam manis dan ladan hitam yang masuk ke dalam perut. Kalau biasanya makan nasi dengan lauk kepiting, kali ini seperti sebaliknya: makan kepiting berlauk nasi plus kangkung. Jika dibuat level kelezatan antara top markotop dan mak nyus seperti Pak Bondan di televisi, saya memilih level mak nyus untuk kepiting asam manis dan top markotop untuk kepiting lada hitam. Apalagi ketika mendapati telur kepiting yang tersembunyi di balik perut yang masih utuh, benar-benar nikmat rasanya.

Sebagai penggemar makanan laut dan hobi mencari kepiting di masa lalu, saya sudah merasakan berbagai jenis kepiting dan aneka bumbu yang menyertainya. Bahkan saya pernah mencoba kepiting kecil yang dibakar di atas lampu petromak sekadar iseng dengan teman-teman di masa sekolah dulu. Jadi lidah saya cukup akrab dengan hewan laut yang satu ini. Satu hal yang cukup menarik dari restoran di Tarakan ini adalah paduan rasa asam dan manis yang pas sehingga rasa dan tekstur asli daging kepiting tidak hilang.

Setelah merasakan nikmatnya kepiting asam manis itu, saya bergumam dalam hati. “Untung sudah pesan untuk dibawa pulang.” Ya, sebungkus kepiting asam manis seharga Rp 250 ribu menyertai perjalanan pulang kembali ke Jakarta.

Wednesday, 11 May 2016

Asiknya Makan dan Bermalam di The House of Raminten

07:46:00
Bagi Penggemar kuliner, ada tempat 24 jam nonstop buka di Yogyakarta. Tenpatnya asyik untuk makan dan bersantai. Bahkan disediakan bantal jika sudah larut malam.

The House of Raminten, konsep angkringan yang dikemas artistik ala keraton. Menunya, jelas menggugah selera. Tempat makan itu  tidak hanya sekedar angkringan. Tetapi tempat yang nyaman dan menu yang sangat lengkap. Nasi kucing dengan lauk teri, ikan asin, oseng tempe dan sambal hanya Rp 1000-2000 per porsi. Juga ada lebih dari 30 menu lainnya yang siap disantap. Untuk minuman, ada yang gelasnya ukuran jumbo, satu gelas bisa untuk jatah minum 3 atau 4 orang yaitu es kelapa muda dan dawet gladri yang harganya belasan ribu rupiah.

Warung berkonsep angkringan tetapi dengan kursi yang bisa disandari dengan santai itu telah buka sejak Desember 2008 yang lalu. Awalnya, hanya buka hingga pukul 00.00 WIB saja. Tetapi, karena banyak permintaan untuk buka lebih lama, warung angkringan itu buka selama 24 jam.

Bahkan, bagi yang kemalaman di Yogyakarta dan tidak mau menginap di hotel, pihak Raminten menyediakan bantal, guling dan selimut untuk tetap berada di angkringan dan tidur nyenyak. Hitung-hitung dapat tempat santai menginap secara gratis.


Ada makanan yang khas raminten yaitu Maheso Selo Gromo yaitu  campuran daging sapi dan ayam ditambah sayur kluwih. Biasanya orang umum menyebut hot stone steak. Ada juga rawon, brongkos, nasi liwet, bubur ayam, kupat tahu, bakso dan sup Sawunggaling. Juga ada ayam goreng dan ayam bakar serta sate bermacam-macam daging, dari kerang, tahu, ati ampela, telur puyuh, usus, jamur dan lain-lain.

Untuk minuman, ada es krim bakar, es dawet, es kelapa muda, anekas susu, aneka wedang : jahe, bandrek, secang teh jahe dan lain lain. Untuk minuman, juga ada aneka jamu godog yang bisa untuk obat penyakit.  Seperti batuk, bersih darah, hipertensi dan bermacam-macam penyakit.

Bagi yang suka minum ramuan beer, ada aneka beer. Namun bukan beer beralkohol tetapi beer tradisional. Yaitu beer pletok, beer Jawa dan beer kocok. Bagi yang suka beer murni juga disediakan beer merek terkenal.

Para pegawai warung itu berpakaian unik. Mereka  memakai pakaian tradisional jawa  yang dimodifikasi bagai pakaian gaul. Pegawai laki-laki misalnya memakai jarik yang diikatkan ke pinggang dengan ikat pinggang besar seperti prajurit keraton. Pegawai perempuan menggunakan kemben dan jarik dan terlihat sangat cantik dan hhhm sangat menarik.

Setiap masuk ke rumah yang di sulap menjadi warung angkringan lumayan mewah itu pasti terdengar suara alunan musik gending-gending Jawa Mataraman. Ada juga dua andong besar milik Hamzah sang pemilik warung. Hamzah sendiri sering berpentas ketoprak dengan lakon Raminten yang juga dijadikan nama warungnya.

Ada beberapa kuda yang terlihat gagah di istal di belakang warung yang selalu terjaga kebersihannya. Sehingga tidak ada bau kotoran.

"Di The House of Raminten ada 200 tempat duduk bagi pengunjung, jika masih antri, ada tempat duduk seperti shelter  untuk menunggu sebelum pengunjung lainnya selesai makan," kata Fernando. Jam ramai pengunjing biasanya  pada waktu makan siang hingga sore. Namun pada malam hari mulai jam 19.00 WIB hingga 00.00 WIB pasti juga ramai bahkan sampai pagi hari.

Devi, 26 tahun, warga Purwokerto, Jawa Tengah, salah satu pengunjung mengaku awalnya heran. Karena ada minuman dengan porsi jumbo. Yang lebih ia sukai, ia dan teman-temannya bisa sampai pagi menikmati makanan dan minuman. Ia suka mengunsumsi minuman aneka jamu karena dinilai lebih sehat. "Suasananya asik, bisa santai sampai pagi dan makananya komplit," kata Devi, pegawai swasta itu.

Thursday, 7 April 2016

Itiak Lado Mudo, Sensasi Bebek Berendam di Sambal (VIII)

15:23:00
Kekayaan kuliner Minangkabau tentulah tak kalah dibandingkan dengan kuliner daerah lain seperti Makassar, Manado, Aceh, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, maupun Banjarmasin dan lain-lain. Dengan cita rasa yang berbeda-beda, masing-masing daerah memiliki keunggulan dan identitas sendiri dibandingkan kuliner daerah lain. Keragaman ini justru menjadi aset berharga Indonesia di dunia icip-icip maupun masak-memasak. Mau meracik rempah apapun hampir semua tersedia di sini. Mau mengolah daging apapun juga tidak susah mencari di sini. Jangankan daging sapi, domba, lembu, ayam, burung, hingga bebek dengan mudah didapatkan di sini.

Mencoba sengatan beragam rendang selama di ranah Minang sudah saya lakukan. Nah, sekarang giliran bebek yang dimasak dengan sambal cabai hijau yang dikenal dengan itiak lado mudo. Ada banyak tempat yang menawarkan salah satu menu andalan Bukittinggi ini. Tapi, di antara penjual itiak lado mudo, beberapa rumah makan yang berada di tepi Ngarai Sianok bisa menjadi rujukan. Selain menawarkan pemandangan yang eksotik, bayangkan makan di warung di tepian sungai dengan latar tebing kokoh Ngarai Sianok yang menjulang. Saya ingin menuntaskan rasa penasaran tentang kelezatan itiak lado mudo di tempat aslinya.

Sebetulnya saya sudah sering menyantap bebek mulai Bebek Goreng Pak Slamet, Bebek Ireng Cak Bas, Bebek Kaleyo, Bebek Goreng RM Lala, Nasi Bebek Khas Madura, sampai bebek yang tidak punya merek sekalipun seperti warung-warung di pinggir jalan. Namun, saya tidak pernah lupa bebek sambal hijau asli dari Minang pemberian Setri Yasa, teman sekantor di Tempo dulu. Yang ini asli olahan tangan orang Minang. Kebetulan ibu teman saya ini memiliki rumah makan sejak 27 tahun silam. Jadi saya percaya pasti lezat. Ah, benar saja. Saya merasakan sensasi bebek yang berbeda dengan balutan sambal cabe hijau muda yang halus.

Memori itiak lado mudo ini kembali muncul setelah Umar Darmaji, profesional IT di Navcore Nextology berbagi cerita. Dia bilang baru saja membeli seekor itiak lado mudo di Ngarai Sianok yang dikirim khusus pakai pesawat ke rumahnya di kawasan BSD Tangerang. Sambil senyum-senyum dia sering mengangkat dua jempolnya ketika saya tanya bagaimana rasa bebek goreng yang terbang dari jauh itu. “Wes pokoke uenak tenan, mas,” katanya. Itu bahasa andalan Umar kalau diminta mendeskripsikan kelezatan sebuah makanan. Yang saya ingat dari soal bebek ini hanya nama Ngarai Sianok tanpa tahu warung apa yang menjualnya.


Ah benar saja. Setelah bermain-main di Goa Japang di tengan kota Bukittingi, saya memutuskan ke Ngarai Sianok mencari si itiak lado mudo. Pilihan saya warung di pinggir tebing yang berdiri di tepian sungai. Begitu bebek itu disajikan, wowww ini dia yang saya cari. Potongan bebek itu nyaris tidak terlihat karena terendam di dalam cabe hijau muda yang diolah menjadi sambal. Jadilah potongan itik itu seperti bebek sedang berenang. Pantas aja ada yang bilang ini bukan itiak lado mudo, tapi itiak baranang di sambal.

Rahasia kelezatan itiak lado mudo bukan hanya terdapat pada cabai yang digunakan, tapi juga rempah lain yang menjadi campuran bumbu masakan ini. Bumbu ini terdiri dari bawang merah, bawang putih, kunyit, dan lengkuas yang dihaluskan bersama cabai. Selain itu, Bebek yang dipilih adalah bebek muda yang berusia enam bulan karena lebih empuk dagingnya. Bebek yang sudah dipotong dan dibersihkan dibakar untuk menghilangkan bulu yang menempel. Setelah itu, bebek digodok dengan bumbu racikan selama 48 jam atau satu hari satu malam penuh. Pantas saja kalau bumbu tadi benar-benar meresap ke dalam lapisan daging.

Mau tahu berapa banyak cabe yang digunakan untuk merendam bebek-bebek ini? Bayangkan, setiap satu ekor bebek dimasak bersama 0,5 kilogram atau lima ons cabe hijau kering. Jadi, setiap potong daging (satu ekor dipotong jadi empat porsi) maka setiap satu potongnya dimasak bersama 1,25 ons cabe. Kalau akhirnya rasa pedas itu cukup kuat, tetap saja terasa nikmat dan lezat dimakan karena daging bebek yang empuk dan gurih. Menikmati daging bebek yang empuk di bawah Ngarai Sianok ini memang membuat lupa. Tak terasa, saya menghabiskan tiga potong bersama sambalnya setandas-tandasnya tanpa sisa. Apalagi siang itu hari sedang mendung dan hujan turun ketika daging bebek muda itu mulai menyentuh lidah saya. (bersambung)

Rendangnya Beragam, Rasanya Tetap Nendang (VII)

15:20:00
Berada di ranah Minang tanpa mencoba rendang bukan saja tidak afdol, tapi tergolong pelancong yang merugi. Rendang tidak bisa dipisahkan dari Minang. Begitu juga sebaliknya meskipun di luar Sumatera Barat, rendang lebih dikenal sebagai masakan Padang. Padahal rendang tidak hanya ada di kota Padang, tapi di seluruh pelosok Sumatera Barat. Bahkan di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei, dan daerah lain, rendang cukup populer. Tapi, seperti kata pepatah "lain lubuk lain ilalang, lain pula rasa rendangnya". Nama boleh sama, tapi soal rasa biasanya memang agak berbeda.

Rendang yang dijual di Yogyakarta, biasanya agak berbeda dibanding yang dijual di Surabaya atau Jakarta meski sama-sama dijual di rumah makan Padang. Bisa jadi ini cara mengakomodasi selera lokal agar rendang lebih mudah diterima. Seperti kata petuah Minang, "di mana bumi diinjak di situ langit dijunjung" rendang memang perlu beradaptasi dengan selera lokal. Tapi, ada juga rendang yang jauh dari citarasa aslinya karena dibuat bukan oleh orang Minang. Saya sendiri pernah mengalami makan rendang rasanya justru mirip bistik. Ketika membayar saja baru tahu kalau koki dan pemilik rumah makan ini orang Tegal, Jawa Tengah.

Untuk membedakan rendang buatan orang Minang asli atau bukan, om saya, Mohamad Hatip adalah ahlinya. Dosen Universitas Muhammadiyah Jember ini penggemar kuliner Minang, terutama rendang. Dia juga paham benar, mana teh talua (teh telur) khas Minang yang enak dan tidak. Sedangkan saya cukup menjadi penikmat saja kecuali menemukan rendang yang rasanya kelewat ajib pasti mencari tahu dan bertanya-tanya. Nah, selama berada di Sumatera Barat saya tak perlu lagi khawatir ini rendang asli atau bukan. Sudah pasti asli. Tinggal pilih rendang daging, rendang itiak (bebek), rendang talua (rendang telur dari Payakumbuh), rendang ayam, rendang paru, dan lain-lain.

Setelah icip-icip rendang sejak di Bangko hingga di Bukittinggi, saya mulai merasakan apa yang berbeda antara rendang di Jakarta di sini. Oh ya, rendang di ranah Minang lebih kuat aroma dan rasa bumbunya. Dagingnya lebih padat dan tidak terlalu berlumur minyak seperti rendang yang saya temukan di tempat lain. Meskipun dagingnya lebih padat, tetap saja empuk ketika dikunyah. Bagian dalam daging ketika dipotong atau disuwir terlihat warna coklat kehitaman. Ini artinya bumbu dan rempah-rempah rendang benar-benar meresap.Makin kesat daging rendang biasanya makin tahan lama karena kadar airnya sudah nol. Jadi bakteri pembusuk tidak mungkin hidup di dalam bumbu rendang yang beraneka rupa ini.


Rendang selalu tersedia di meja makan karena menjadi bagian dari gaya hidup orang Minang. Menurut sejarawan Universitas Andalas, Gusti Asnan, rendang dikenal masyarakat Minang sejak abad ke-15. Rendang menjadi bekal di perjalanan ke tempat merantau atau berniaga karena mampu bertahan dalam hitungan minggu hingga bulan. Makanan ini juga disebut dalam kesusastraan Melayu klasik seperti Hikayat Amir Hamzah sebagai bukti rendang sudah dikenal dalam seni kuliner Melayu sejak 1550-an.

Selain itu, dalam catatan Kolonel Stuers tentang kuliner dan sastra tahun 1827 jug aterdapat deskripsi tentang makanan yang mengarah pada rendang. Dalam beberapa literatur Belanda pernah muncul istilah makanan yang dihitamkan dan dihanguskan sebagai teknik pengawetan. Makanan ini diyakini berasal dari kari India yang dibawa oleh saudagar-saudagar India ke Minangkabau pada abad ke-13 dan 14. Rendang adalah proses berlanjutan dari kari India karena dimasak hingga kering dan tidak memiliki kadar air sehingga awet. Belasan rempah dan santan serta cara memasak membuat makanan ini memiliki citarasa yang khas.

Kekuatan dan kekayaan rempah itu bisa jadi yang membuat rendang terpilih sebagai paling lezat sedunia versi CNN International. CNN membuat survey untuk mencari hidangan paling lezat sedunia. Hasilnya ada 50 makanan yang terpilih dalam World's 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat Dunia) tahun 2011. Rendang berada di urutan pertama disusul nasi goreng yang mengalahkan Massaman Curry dari Thailand. Sedangkan sate berada di peringkat ke-14, tapi tidak dijelaskan apakah sate Madura, sate Tegal, sate Blora, atau sate Padang. Ternyata memang benar, menikmati rendang di ranang Minang memang beda rasanya. (bersambung)

Wednesday, 23 March 2016

Kapah dan Pisang Goreng Sambal, Kuliner Khas Pantai Amal

08:29:00

Sebagai kota yang berasa di pesisir, Tarakan sudah pasti akrab dengan hidangan laut. Tidak hanya kepiting yang menjadi sajian utama kuliner kota yang kini masuk Provinsi Kalimantan Utara ini. Tarakan, bahkan memiliki menu laut khas yang menjadi ciri khasnya yakni kapah. Sepintas, bentuk kapah tidak berbeda dibandingkan dengan kerang yang biasa saya temukan di pasar maupun restoran. Bentuknya pipih dan cangkangnya harus dibuka jika ingin memakan bagian daging yang tersembunyi di dalamnya. Karena sudah dilanda penasaran dengan kapah, saya tidak sabar segera mengicipi hewan laut yang satu ini.

Acara makan kapah pada siang yang terik ini bukan di restoran di tengah kota, namun di pinggir kota dengan lama perjalanan sekitar 30 menit. “Lokasinya di Pantai Amal lama,” kata Anton Thedy, Founder TX Travel. Pantai Amal di Tarakan memang ada dua: lama dan baru. Pantai Amal lama dibentengi tanggung penahan gelombang laut. Memandang ke pantai, yang terlihat bukan sekadar perahu nelayan, tapi kapal-kapal tanker yang siap mengsung minyak. Lokasi tempat makan kapah ada di deretan warung yang berjarak sekitar 100 meter dari bibir tanggul. Nama warungnya pun cukup unik: Warung Izay dengan spanduk hitam putih seperti papan catur.

Di antara warung lain yang menjadi tetanggnya, Warung Izay tampak lebih ramai. Tumpukan kelapa muda dibiarkan di depan warung. Di sisi yang lain, dua kotak besar berisi kerang kapah lengkap dengan timbangannya. Ukuran kapah lebih besar dibandingkan kerang hijau yang saya kenal di Jakarta. Warnanya putih mengkilat dengan garis-garis hitam di bagian samping. Kulit kapah juga lebih tebal dan lebih keras dibandingkan kerang hijau. Satu ekor kapah hanya bisa digenggam tangan lelaki dewasa. “Tekstur dagingnya berbeda dibanding kerang biasa,” kata Fransisca dan Jodhy Sudianto, suami isteri pemilik Hotel Swiss Belhotel Tarakan.



Begitu cangkang kapah rebus dibuka, daging putih yang terasa kenyal mampir di lidah. Rasa kapah yang cenderung tawar lebih nikmat dikudap dengan sambal mentah yang pedas membara. Makan kapah sebaiknya dibarengi sambal maupun saos yang memberikan aroama lebih karena daging kapah lebih terasa kenyalnya. Tapi, justru di sinilah kelebihan kapah karena tidak ada aroma amis maupun aroma laut seperti kerang biasa. Cangkang kapah dioleh penduduk sekitar menjadi barang kerajinan mulai gantungan kunci sampai hiasan lampu karena sangat kuat.

Setelah mencoba kapah, satu lagi kudapan menarik di warung ini: pisang goreng cocol sambal terasi. Kudapan ini terdengar sedikit aneh karena pisang goreng yang biasa kita kenal dimakan dengan sambal yang pedasnya juga membara. Rasa pisang yang manis kecut dipadu dengan sambal terasi yang menggigit. Ah, semula saya sulit membayangkan seperti apa kombinasi rasa yang tergolong unik ini. Tapi, setelah kudapan itu mampir di lidah, ternyata boleh juga rasanya. Terutama sensasi sambal terasi yang mengingatkan saya pada cenge, sambal untuk menemani makan kepeng atau kerupuk opak di Madura.

Sambal pisang goreng Tarakan dan cenge di Madura ini rasanya berdekatan mungkin karena dari bahan baku yang tidak jauh berbeda dan prosesnya yang sama-sama digoreng. Tapi, kepedasan sambal pisang goreng ini masih kalah dibandingkan sambal kapah. Di siang yang terik tersebut, dua makanan ini membuat lidah saya serasa terbakar hebat. Untunglah, kelapa muda hijau sudah tersaji sehingga segala kenapasan di lidah menjadi sirna.

Friday, 18 March 2016

Campur, Makanan Unik Yang Hanya Ada di Glenmore

20:07:00
Glenmore tidak hanya unik karena namanya yang terdengar asing dan kebarat-baratan di antara 24 kecamatan lain di Banyuwangi. Kecamatan yang memiliki banyak perkebunan ini juga punya kuliner unik yang tidak ditemui di tempat lain. Campur namanya. Penjualnya tak banyak, hanya beberapa orang di pasar Desa Sepanjang yang lebih dikenal sebagai Pasar Glenmore. Ya, inilah makanan yang membuat kangen warga Glenmore, terutama penduduk Sepanjang, yang hidup di perantauan. Tak heran jika idul fitri tiba, penjual campur jadi tujuan favorit kaum perantauan.

Makanan ini terdiri dari lontong dan mi putih yang disiram sambal kacang tanah dan kuah merah yang encer dengan aroma khas rempah-rempah seperti cengkeh. Potongan daging sapi kecil-kecil biasanya melengkapi kudapan dengan rasa kuah yang gurih ini. Tingkat kepedasan disesuaikan dengan selera pembeli. Rasa gurih dan hangatnya membuat makanan ini lebih cocok dikudap di malam hari, terutama dengan rasa pedas saat cuaca sedang hujan. Apalagi jika ditambah kerupuk bawang putih atau kerupuk puli dan cocolan petis.

Di pagi hari, ada sejumlah penjual di Pasar Glenmore yang melayani pembeli sampai siang hari, sekitar pukul 10.00. Sedangkan di malam hari, hanya ada dua penjual di pinggir jalan raya depan pasar dengan letak yang tidak berjauhan. Meski pada awalnya makanan ini dijual untuk warga Madura, lambat laun campur menjadi kuliner khas Glenmore yang tidak ditemukan di kawasan lain. Ingat Glenmore, pasti ingat campur.

Konon, campur merupakan hasil modifikasi dari lontong campur dari Madura yang dibawa oleh pendatang dari Madura yang berjualan ikan pindang di Pasar Glenmore sekira tahun 1950-an. Semula makanan ini ditujukan untuk orang Madura oleh Bu Samsuni, penjual campur pertama di Pasar Glenmore. Tapi, cita rasa yang unik membuat warga lain juga menggemari makanan ini. Setelah Bu Samsuni meninggal, tradisi menjual campur dilanjutkan oleh Bu Sakdiyah yang juga kerabat Samsuni. Belakangan Bu Sakdiyah berganti menjual nasi pecel dan campur dilanjutkan oleh Mbok No yang terhitung masih kerabat.




Salah seorang anak Bu Samsuni, Kiptiyah memasuki bisnis kuliner ini pada tahun 1980. Lokasi jualan tepat di depan sebuah gardu kecil di perempatan jalan raya Glenmore. Tapi, tradisi kuliner ini dilanjutkan oleh kerabatnya yang lain bernama Sulasi karena Kiptiyah pindah ke Madura mengikuti suaminya. Campur buatan Sulasi cukup dikenal karena rasa bumbunya yang sangat berani sehingga membuat pelanggan ketagihan. Dalam lingkup yang kecil, Sulasi boleh disebut salah satu ikon campur Glenmore.

Kiptiyah yang sempat hilang dari dunia kuliner campur akhirnya kembali setelah beberapa tahun hidup di Madura. Usaha campur yang dulu dia tinggalkan dihidupkan kembali dengan cita rasa yang lebih menggigit. Di pagi hari, dia menjual campur di Pasar Glenmore. Sedangkan di malam hari dia membuka warung tenda di ujung selatan pasar. “Para penjual campur di Glenmore masih punya hubungan kekerabatan,” kata Kiptiyah. Jumlah pembeli biasanya bertambah pada malam minggu atau hari libur. “Paling ramai kalau malam Idul Fitri dan selama Idul Fitri,” katanya.

Kuliner ini memang diwariskan secara turun temurun, terutama di lingkungan keluarga besar Samsuni. Selain Kiptiyah, usaha campur milik Mbok No kini diteruskan oleh anaknya karena usia si ibu sudah cukup lanjut. Begitu juga dengan usaha campur milik Sulasi yang dilanjutkan oleh anaknya karena faktor kesehatan. Lokasi berjualan pun tak pernah berjauhan, hanya di sekitar pasar Glenmore.

Meski awal mula campur diwariskan turun temurun, kini penjual campur tidak terbatas pada keturunan atau kerabat Samsuni. “Sekarang sudah mulai banyak yang jualan campur,” katanya. Bahkan tidak jarang di musim-musim tertentu muncul penjual campur dadakan. Misalnya, dua hingga tiga hari lebaran Idul Fitri, banyak penjual campur dadakan muncul. Kemunculan mereka karena warga Glenmore di perantuan biasanya pulang kampung dan mencari makanan khas ini.

Harga seporsi campur, biasanya satu piring terdiri dari empat sampai lima potong lontong, yang disiram sambal kacang dan kuah merah tidak lebih dari Rp 5.000,- Cukup bersahabat dengan kantong, terutama bagi kaum perantuan. Jadi, jika anda berkunjung ke Glenmore, tidak afdol rasanya jika tidak mengudap makanan ini. Ingat Glenmore, ingat campur.

Nikmatnya Sambal Belut Pak Sabar

07:48:00

Lidah penggemar kuliner akan disuguhi sensasi lezat ala Pak Sabar di Dusun Dokaran, Tamanan, Banguntapan Bantul dengan sambal belut. Tidak hanya itu, ikan kutuk atau ikan gabus dengan bumbu racikannya siap membuat lidah menari.

Kreasi bumbu-bumbu sambal belut menawarkan aneka olahan belut, ikan gabus, ikan lele dan ikan tawar lainnya. Rasanya, dijamin gurih dan  tentu saja pedas. "Sambal belut itu banyak yang mengira dicampuri parutan kelapa, tetapi itu adalah serat-serat daging belut," kata Sabar yang telah merintis usaha itu sejak tahun 2000.

Ia bersama istrinya, Sri Umidah serius menekuni  usaha ini dengan mencoba menawarkan sambel yang berbeda dari biasanya dengan bahan dasar belut. Caranya,  bahan dasar sambel justru dari belut yang digoreng setengah matang. Setelah dibuang tulang dan kulitnya, lalu dicampur dengan bumbu kencur, cabai, daun jeruk dan garam lalu dihaluskan.

Namun, kata dia, menu belut goreng juga disajikan. Sehingga belut goreng berpadu dengan sambal belut membiat lidah disuguhi sensasi gurih lezat belut. Bumbu belut dan ikan tawar lainnya cukup dengan bawang putih dan kunyit yang bisa digoreng kering atau setengah matang. Soal rasa pedasnya, para petualang kuliner bisa memesan sesuai selera. Mau pedas, agak pedas, atau sangat pedas sesuai permintaan.




Belut-belut yang ukirannya cukup besar dan besar, Sabar mendapatkannya dari sekitar Bantul, Klaten, bahkan hingga Solo. Dalam dua  hari, ia menjelaskan bisa menghabiskan 80 kilogram hingga satu kwintal belut. Tetapi itu juga tergantung pasokan, karena untuk mendapatkan belut yang ukurannya lumayan besar memang agak sulit. Untuk ikan gabus, bisa mencapai 50 kilogram per dua hari yang Kulonprogo dan daerah Bliter, Jawa Timur. "Saat ramai pembeli biasanya siang hingga malam," katanya.

Sabar membuka warung yang agak masuk dari jalan Imogiri Barat. Buka sejak pukul 10.00 WIB hingga 24.00 WIB.  Mayoritas pembeli justru dari luar daerah Bantul. Meskipun begitu, juga ada yang membeli dari daerah sekitar. "Kalau tamu rombongan, sebaiknya telepon dulu biar tidak terlalu lama menunggu masakan," kata dia.

Soal harga, jangan berprasangka mahal. Harga sambel belut tidak membuat kantong bolong. Selain itu, juga ada sambel bawang dan sambel terasi dengan lauk utamanya belut goreng yang dihargai per ons, ikan gabus dan ikan lele. Biasanya untuk lalapan disediakan kemangi, mentimun dan sayur daun singkong yang dijamin harganya sangat murah. "Biasanya kalau tamu rombongan pesannya per kilogram," kata istri Sabar, Sri Umidah.

Intaningrum, 25 tahun, salah satu penikmat sambel welut Pak Sabar mengaku puas. Sebab rasa sambalnya sangat berbeda dengan anek sambal yang pernah ia rasakan. "Rasanya bikin ketagihan dan berkeringat," kata dia.